Jika kita lihat matahari dari bumi,
ia selalu bersinar...terang...dalam kesendiriannya di galaksi bima sakti.
Tapi sesungguhnya dalam matahari pun terjadi gejolak dahsyat,
reaksi fusi nuklir yang meledak-ledak,
lidah api matahari yang menjilat menyemburkan radiasi,
memancarkan badai matahari yang mengamuk seperti ingin membakar segala...
Tapi matahari tak boleh egois,
ia harus terus menjalankan perannya,
ia tetap harus bersinar terang,
ia harus terus memberikan sinar penopang kehidupan,
Yang perlu dan cukup untuk dilihat oleh bumi,
adalah senyum hangat matahari...selalu...di setiap pagi menjelang.
Thursday, December 29, 2011
Wednesday, July 20, 2011
Mari Menikmati Hidup ...
Banyak yang ingin hidupnya bahagia, bahkan mungkin hampir semua orang. Cuman memang roda kehidupan itu selalu berputar, selalu dipergilirkan antara senang dan susah. Kadang saja, bagi sebagian orang kesusahan itu tak tertahankan, hingga dia meragukan tentang hidupnya dan apa yang terjadi padanya.
"Apa sih yang saya dapatkan dalam hidup itu?", itu mungkin yang ada dipikiran sebagian orang.
Life...
In the end of it, some people found happiness..
and in the other end, some other found sorrow...
But, in the beginning of it, Alloh has give it as a bless for everyone ...
Hidup itu sendiri sebuah nikmat. Untuk menikmati hidup mungkin kita bisa berkaca seperti ini:
Pertama, uang pecahan 100 rb bisa bernilai kecil kalau dibawa masuk ke mall,
tapi juga bisa bernilai besar kalau hendak dimasukkan kencleng masjid. ^_^
Ujudnya sama, tapi besar/kecil itu masalah cara pandang kita saja. Makanya mulailah memandang semua nikmat dari Allah itu besar, itu jalan untuk mulai bahagia ...
Kedua, kaca spion dibuat kecil saja untuk sesekali kita melihat ke belakang. Begitu juga seharusnya kita melihat masa lalu, sesekali dan sedikit saja. Yang telah lalu, walaupun sedetik adalah hal yang sudah sangat jauh dan takkan kembali. Selanjutnya, untuk mulai bahagia lepaskanlah masa lalu...maafkanlah...
Ketiga, seorang anak belajar berjalan setelah berkali-kali terjatuh, terluka, dan menangis. Tapi tak pernah dia berhenti mencoba karena ingin bisa. Kegagalan kita adalah sekedar bahwa itu mungkin bukanlah rezeki kita hari ini. Tetaplah optimis, seyakin keyakinan kita terhadap kemampuan Sang Pemberi Rezeki. Lalu mari bahagia, mari menikmati hidup ini ...
Wallahu a'lam bish-showab
"Apa sih yang saya dapatkan dalam hidup itu?", itu mungkin yang ada dipikiran sebagian orang.
Life...
In the end of it, some people found happiness..
and in the other end, some other found sorrow...
But, in the beginning of it, Alloh has give it as a bless for everyone ...
Hidup itu sendiri sebuah nikmat. Untuk menikmati hidup mungkin kita bisa berkaca seperti ini:
Pertama, uang pecahan 100 rb bisa bernilai kecil kalau dibawa masuk ke mall,
tapi juga bisa bernilai besar kalau hendak dimasukkan kencleng masjid. ^_^
Ujudnya sama, tapi besar/kecil itu masalah cara pandang kita saja. Makanya mulailah memandang semua nikmat dari Allah itu besar, itu jalan untuk mulai bahagia ...
Kedua, kaca spion dibuat kecil saja untuk sesekali kita melihat ke belakang. Begitu juga seharusnya kita melihat masa lalu, sesekali dan sedikit saja. Yang telah lalu, walaupun sedetik adalah hal yang sudah sangat jauh dan takkan kembali. Selanjutnya, untuk mulai bahagia lepaskanlah masa lalu...maafkanlah...
Ketiga, seorang anak belajar berjalan setelah berkali-kali terjatuh, terluka, dan menangis. Tapi tak pernah dia berhenti mencoba karena ingin bisa. Kegagalan kita adalah sekedar bahwa itu mungkin bukanlah rezeki kita hari ini. Tetaplah optimis, seyakin keyakinan kita terhadap kemampuan Sang Pemberi Rezeki. Lalu mari bahagia, mari menikmati hidup ini ...
Wallahu a'lam bish-showab
Labels:
cobaan hidup,
kontemplasi,
optimis
Tuesday, July 12, 2011
pelangi kita ...
Pelangi,
adalah kumpulan warna berbeda yang muncul di langit setelah hujan,
dia indah justru karena tak hanya satu warna saja,
dia ada justru setelah langit bergolak mengguyur bumi dengan hujan yang deras.
tahukah kawan,
butir-butir bening air di langit setelah hujan adalah laksana kristal optik yang memendarkan warna putih sinar mentari,
dari satu warna saja berubah menjadi beberapa spektrum yang nampak berkilau indah,
merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu,
me-ji-ku-hi-bi-ni-u.
tahukah sahabat,
gelapnya awan cumulonimbus yang menjadi hujan deras adalah sama dengan yang lalu membuat pelangi,
awan yang menyesakkan dada kita dengan kecemasan badai adalah yang juga menyejukkan mata kita dengan binar cahaya pelangi,
hanya saja kita harus sabar menunggunya mencurahkan tetes-tetes air hujan untuk sedikit meredakan bebannya,
baru kemudian ia menyisakan butir-butir bening air di langit yang mencipta warna pelangi,
merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu,
me-ji-ku-hi-bi-ni-u.
tahukah saudaraku,
aku mungkin merah, engkau jingga, dia kuning, mereka hijau, biru, nila, ataupun ungu,
kita adalah produk yang sama dari sinar mentari yang bertemu butir-butir bening air laksana kristal,
sejatinya kita sama hanya saja seringkali persepsi kita yang berbeda.
hai kawan, sahabat, dan saudaraku,
jika ada awan gelap dan badai yang sedang menyesakkan dada kita,
lalu kenapa kita tak bisa sedikit sabar menunggunya tercurah meredakan beban?
sehingga kemudian kita bisa berkumpul kembali,
aku yang merah, engkau yang jingga, dia yang kuning, mereka yang hijau, biru, nila, ataupun ungu,
bersama kita membentuk pelangi...
Sebuah pelajaran dari mualaf Amrik..
Dulu pernah sehabis pulang dari jalan-jalan bersama teman di Lembang (lumayan lho, pemandangan dan cuacanya cukup bisa menghibur hati yang gundah), kami mampir sholat ashar di Daruut Tauhid. Memang pas banget waktu adzan Ashar dan sekalian pingin ngeliat juga bagaimana rupa Daruut Tauhid kini.
Saya sholat disamping seorang tinggi besar, memakai peci, rambut dan janggutnya tebal pirang, ternyata seorang bule. Setelah sholat, samar-samar terdengarlah lantunan do'a-do'a dia (dalam bahasa Inggris). Entah kenapa hal itu membuat ingin juga untuk berdo'a dan meminta lebih ke Allah kali ini.
Agak lama, kami pun selesai berdo'a hampir bersamaan. Kami saling menengok, dan dia pun mengulurkan tangannya sambil mengucap "Assalammu'alaikum". Saya jawab salamnya dan lalu bertanya, "Are you Australian?" dan dia menjawab, "I'm American". Itulah permulaan perkenalan dan diskusi singkat kami. Namanya Abdullah, sebelum "convert" dia dipanggil Cleon.
Bisa dibilang, Abdullah/Cleon tak pernah merencanakan datang ke Indonesia, apalagi Daruut Tauhid. Dia mau ke Saudi, tapi sampainya malah ke Gegerkalong. Sudah sepuluh hari dia disana, dan dia merasa enjoy dengan kondisi Indonesia. Salah satunya dengan universitas (UPI) yang dilihatnya dipenuhi mahasiswa yang berpakaian sopan dan menutup aurat dengan baik (beda dengan di Amrik yang katanya mahasiswanya "practically naked" ^_^). Juga dengan fakta bahwa disini: bekerja, belajar, mencari uang, beribadah, dll benar-benar "terasa" sebagai sesuatu yang "worth" buat dikerjakan, bukan sekedar aktivitas kosong yang seakan tanpa ruh.
Dia bilang dia belum lama memeluk Islam. Saya berkomentar," You're lucky. It is said that when you're changing to Islam, you become like a pure baby." Tapi dia kemudian memberikan satu pelajaran berharga tentang "lucky" tadi.
Jadi pada dasarnya, ketika kita bangun di pagi hari, kita memilih. Apakah akan terus sholat subuh, atau kembali tidur. Itu semua pilihan sadar kita. Itulah yang menentukan kita menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT atau tidak. Keputusan itu dengan sadar kita buat. Saat kita memilih untuk memulai hari kita dengan ketaatan kepada-Nya, itulah sesungguhnya keberuntungan. Hidayah itu didapat ketika kita pun berusaha mencarinya. Hari itu, satu lagi pelajaran saya dapatkan. Semoga ini adalah rahmat Allah yang dengannya membuat kita selalu ingat kepada-Nya.
Diskusi kami ditutup dengan pertanyaannya, "Do you pray five times a day?" Sekali lagi, semoga ini menjadi pengingat bagiku untuk istiqomah, saat waktu itu kujawab, "Insya Allah".
Thank you brother Abdullah. It is nice to meet you too. I don't know why Allah sent you to Gegerkalong, but maybe one of the reason is to teach me a lesson for "Menjalani hidup dengan sadar". Jazakallah khoiron katsiroo...
Gegerkalong, Januari 2011
melatih senyum
Buat mereka-mereka yang akhir-akhir ini merasa kesulitan tersenyum atau yang ngerasa dari dulu orang ga pernah ada yang terus jadi simpatik walaupun senyumnya udah dibuat se-memelas mungkin (ah kasian sekali kamuh), ini ada tips dan trik yang jitu.
Berikut adalah langkah-langkah buat latihan ter-SENYUM :
1. Berdo'a: Niatkan juga untuk ibadah dan pikirkan hal-hal yg bisa membuat bahagia.
2. Pemanasan (1 menit): Lemaskan otot-otot wajah (bisa dgn pijat facial sederhana).
3. Inti (2 menit): Buka dgn mencoba berbagai ekspresi wajah hingga ketemu bentuk senyum yg paling manis yang kamu miliki, lalu fokuskan gerakan pd senyuman itu, misal: lebar kiri-kanan @2cm / atas-bawah @1cm, tahan selama 10 detik (ulangi 10x).
4. Pendinginan (1 menit): tarik nafas lewat hidung, hembuskan lewat mulut (jangan lupa ekspresi harus MAKSIMAL, saat tarik sampai kempot, pas hembus sampai bunyi "Hufhhh !!!").
5. Tiap sesi latihan masing-masing butuh waktu 5 menit. Sekali latihan bisa 2,3,4x sesi sesuai selera, tapi jika sedang terburu-buru maka 1x pun cukup.
6. Lakukan di depan cermin min.2x sehari setelah mandi. Jika terjadi efek samping segera hubungi dokter (jiwa).
Selamat mencoba! ^_^
sebuah kata yang berat terasa
Aku ingin bisa merengkuh kata "itu" dan menaruhnya dgn teramat baik di alam bawah sadarku, sangat dekat dengan hati.
Hingga kemudian bisa terucap semudah ucapan orang lain yg terasa tanpa beban...
Bukan ku benci atau tak percaya atau bahkan indifferent, karena jika itu lalu untuk apa aku menginginkannya?
Hanya saja seperti asing dan berat terasa olehku apa yg jadi kandungan dan pertanggung jawabannya, walau kusadar dari sanalah asalku jua.
Entah kemana saja sudah ku tersesat sehingga lupa jalannya, hingga sempat ragu adakah hak dan wewenang ilmiahku untuk mendefinisikannya ?
Bisakah timbunan logika dan sistematika ilmu menjabarkannya? sebagaimana soal-soal Kalkulus, Fisika, dan Kimia yang tak pernah kutakut memecahkannya...
Atau jangan-jangan, aku hanya sekedar penakut yg bahkan sekedar mengucapkannya saja tak bisa, karena itu sudah masuk wilayah rasa.
Mungkinkah... dgn mulai menganggapnya ringan saja, lalu berlatih mengucap disertai bumbu indah dan lisan yg fasih, maka kemudian bisa inginku tersampai?
Ya Tuhan, tolong ajari aku tentang cinta ...
waktu itu modal kita
Sehari semalam ialah pandangan kita akan lamanya rotasi bumi, lebih tepatnya 23 jam 56 menit. Konon katanya karena kuatnya gempa di Aceh, Chile, dan Jepang sampai-sampai mengurangi waktu tersebut masing-masingnya 6.28, 1.26, dan 1.6 mikrodetik. Waktu tersebut dibulatkan menjadi 24 jam.
Waktu tersebut ialah modal yg diberikan sama rata ke semua orang.
Dengannya ...
ada yg kemudian bisa mengurus sebuah negara,
ada yg kemudian bisa mengurus perusahaan berskala internasional,
ada yg bisa mengurus kesejahteraan keluarganya,
ada yg bisa mengurus hingga orang-orang terlantar,
dan ada pula yg bahkan mengurus dirinya sendiri pun tak bisa...
termasuk yang manakah kita?
waktu itu ibarat pedang yang sangat tajam,
pandai-pandailah memainkan pedang, kalau tidak ia yang akan menebasmu...
mari kita berusaha agar tidak menjadi orang-orang yang merugi,
mari kita beriman dan beramal shalih,
saling mengingatkanlah dalam kebenaran dan sabar ...
Subscribe to:
Posts (Atom)