Pages

Tuesday, July 12, 2011

Sebuah pelajaran dari mualaf Amrik..

Dulu pernah sehabis pulang dari jalan-jalan bersama teman di Lembang (lumayan lho, pemandangan dan cuacanya cukup bisa menghibur hati yang gundah), kami mampir sholat ashar di Daruut Tauhid. Memang pas banget waktu adzan Ashar dan sekalian pingin ngeliat juga bagaimana rupa Daruut Tauhid kini.

Saya sholat disamping seorang tinggi besar, memakai peci, rambut dan janggutnya tebal pirang, ternyata seorang bule. Setelah sholat, samar-samar terdengarlah lantunan do'a-do'a dia (dalam bahasa Inggris). Entah kenapa hal itu membuat ingin juga untuk berdo'a dan meminta lebih ke Allah kali ini.

Agak lama, kami pun selesai berdo'a hampir bersamaan. Kami saling menengok, dan dia pun mengulurkan tangannya sambil mengucap "Assalammu'alaikum". Saya jawab salamnya dan lalu bertanya, "Are you Australian?" dan dia menjawab, "I'm American". Itulah permulaan perkenalan dan diskusi singkat kami. Namanya Abdullah, sebelum "convert" dia dipanggil Cleon.

Bisa dibilang, Abdullah/Cleon tak pernah merencanakan datang ke Indonesia, apalagi Daruut Tauhid. Dia mau ke Saudi, tapi sampainya malah ke Gegerkalong. Sudah sepuluh hari dia disana, dan dia merasa enjoy dengan kondisi Indonesia. Salah satunya dengan universitas (UPI) yang dilihatnya dipenuhi mahasiswa yang berpakaian sopan dan menutup aurat dengan baik (beda dengan di Amrik yang katanya mahasiswanya "practically naked" ^_^). Juga dengan fakta bahwa disini: bekerja, belajar, mencari uang, beribadah, dll benar-benar "terasa" sebagai sesuatu yang "worth" buat dikerjakan, bukan sekedar aktivitas kosong yang seakan tanpa ruh.

Dia bilang dia belum lama memeluk Islam. Saya berkomentar," You're lucky. It is said that when you're changing to Islam, you become like a pure baby." Tapi dia kemudian memberikan satu pelajaran berharga tentang "lucky" tadi.

Jadi pada dasarnya, ketika kita bangun di pagi hari, kita memilih. Apakah akan terus sholat subuh, atau kembali tidur. Itu semua pilihan sadar kita. Itulah yang menentukan kita menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT atau tidak. Keputusan itu dengan sadar kita buat. Saat kita memilih untuk memulai hari kita dengan ketaatan kepada-Nya, itulah sesungguhnya keberuntungan. Hidayah itu didapat ketika kita pun berusaha mencarinya. Hari itu, satu lagi pelajaran saya dapatkan. Semoga ini adalah rahmat Allah yang dengannya membuat kita selalu ingat kepada-Nya.

Diskusi kami ditutup dengan pertanyaannya, "Do you pray five times a day?" Sekali lagi, semoga ini menjadi pengingat bagiku untuk istiqomah, saat waktu itu kujawab, "Insya Allah".

Thank you brother Abdullah. It is nice to meet you too. I don't know why Allah sent you to Gegerkalong, but maybe one of the reason is to teach me a lesson for "Menjalani hidup dengan sadar". Jazakallah khoiron katsiroo...

Gegerkalong, Januari 2011

No comments:

Post a Comment